Warga Pesantren Walisongo, nama "Pasukan Kelalawar Hitam" sudah tak asing lagi. Dialah pelaku pembantai santri di pesantren itu ketika tahun 2000. Jumlahnya diperkirakan lebih dari 200.
Ratusan Muslim Poso, khususnya warga Pesantren Walisongo tentu tak akan pernah lupa nama "Pasukan Kelewar Hitam." Sebab dialah sang pelaku pembantaian Muslim Poso di tahun 2000. Tulisan ini merupakan kilas balik investigasi yang pernah dimuat di majalah Hidayatullah.
Tampilkan postingan dengan label Muslim minoritas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim minoritas. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Agustus 2011
TRAGEDI MEMILUKAN DI POSO
Senin, 28 Mei 2007, ba’da zuhur, Aula Masjid al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta penuh sesak dipadati hadirin. Kursi yang disediakan panitia tidak muat menampung luberan peserta. Terpaksa sebagiannya harus duduk di lantai. Hari itu, FUI bersama Hizbut TahrirIndonesia, Yayasan al-Azhar dan MUI menyelenggarakan Tablig Akbar, “Peringatan Tragedi Pembantaian Pesantren Wali Songo Poso”.
Sejumlah tokoh menyampaikan orasinya. Di antaranya, Ketua MUI KH Kholil Ridwan, Ketua DDII Zahir Khan, Ketua FUI Mashadi dan Jubir HTI HM Ismail Yusanto. Mendengarkan orasi yang disampaikan oleh para tokoh dengan penuh semangat dan menyaksikan film dokumenter pembantaian Muslim Poso tahun 2000 dan 2001, tak pelak membuat suasana forum menjadi penuh dengan aura kesedihan dan kemarahan. Hadirin makin terkesima saat mendengar kesaksian 3 korban pembantaian yang selamat: Ilham, mantan santri Wali Songo yang pesantrennya habis dibakar serta seluruh santri dan kyai di sana tewas dibunuh; serta dua janda yang suaminya juga tewas dibantai, yaitu Nur Wahyuni dan Sofiyah.
Merenung Tentang Poso
Hari Natal, 25 Desember 1998, bertepatan dengan hari ke-6 bulan Ramadhan 1419 H. Bagi umat Kristiani Indonesia, inilah perayaan Natal pertama "bebas" dari rezim Suharto yang selama 32 tahun membelenggu demokrasi. Begitu pun dengan umat Kristiani Poso. Mereka merayakan Natal ini dengan gembira.
Tapi apa yang dilakukan Roy Runtu di hari raya agamanya itu? Pemuda ini punya cara khusus. Dia merayakannya dengan menenggak beberapa botol minuman keras hingga mabuk.
Jumat, 24 Juli 2009
Uighur
FUI Kecam Pembantaian Muslim Uighur
Minggu, 12 Juli 2009 - 12:42 wib
JAKARTA - Pemerintah China kembali dianggap membiarkan terjadinya pembantaian yang dilakukan etnis Han terhadap warga Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, China. Ratusan muslim Uighur dilaporkan tewas dan ribuan lainnya mengalami luka luka di kota Urumqi akibat pembantaian itu. Sebagai bentuk solidaritas, Forum Umat Islam (FUI) hari ini, Minggu (12/7/2009), menggelar tabligh akbar di Masjid Al Barkah As Syafi'iyah, Balimatraman. Sekjen FUI Muhammad Al Khaththath menegaskan, FUI menuntut Pemerintah Indonesia dan dunia Islam agar memberikan tekanan politik terhadap pemerintah China untuk menghentikan aksi represifnya serta memberikan hak-hak hidup serta kemerdekaan bangsa Uighur. FUI juga meminta Pemerintah China untuk segera membuka masjid-masjid di Xinjiang yang selama ini ditutup bahkan diduduki tentara. "Kami menyerukan kepada umat Islam Indonesia untuk memberikan solidaritas minimal dalam bentuk qunut nazilah kepada umat Islam Uighur," katanya. Senin besok, FUI pun berencana melakukan aksi damai di depan Kedubes China, di kawasan Mega Kuningan pada pukul 10.30 WIB, yang intinya melayangkan protes terhadap tindakan represif tentara China itu.(Arif Sinaga/Trijaya/ded)
Uighur Dicekam Ketakutan
Muslim Uighur Dicekam Ketakutan
By Republika Newsroom
Sabtu, 11 Juli 2009 pukul 23:33:00
Sabtu, 11 Juli 2009 pukul 23:33:00
DAYLIFE.COM
URUMQI--Sejumlah Muslim Uighur di wilayah terisolasi di China masih bertahan dalam persembunyiannya hampir satu pekan. Mereka hidup dicekam rasa takut diburu, ditangkap, dan dianiaya warga China Han menyusul kerusuhan beberapa waktu lalu.
Hasisha, seorang dokter mata yang bekerja di Uighur, yang mengaku ia sangat takut kembali ke rumahnya di distrik Urumqi, tempat etnik mayoritas China Han tinggal.
"Saya masih takut karena, anda tahu, ada banyak warga Han di tempat saya tinggal," kata warga Uighur yang berusia 30 tahun itu kepada AFP setelah enam hari tinggal di klinik majikannya.
"Saya takut dipukuli karena ada banyak orang Uighur dipukuli di sana. Kami semua hanya berharap semua dapat kembali normal segera."
Salah satu pengusaha dari Uighur, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa beberapa orang pekerjanya tidur di tempat kerja karena mereka khawatir ditangkap tanpa alasan oleh pasukan keamanan.
Hasisha, seorang dokter mata yang bekerja di Uighur, yang mengaku ia sangat takut kembali ke rumahnya di distrik Urumqi, tempat etnik mayoritas China Han tinggal.
"Saya masih takut karena, anda tahu, ada banyak warga Han di tempat saya tinggal," kata warga Uighur yang berusia 30 tahun itu kepada AFP setelah enam hari tinggal di klinik majikannya.
"Saya takut dipukuli karena ada banyak orang Uighur dipukuli di sana. Kami semua hanya berharap semua dapat kembali normal segera."
Salah satu pengusaha dari Uighur, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa beberapa orang pekerjanya tidur di tempat kerja karena mereka khawatir ditangkap tanpa alasan oleh pasukan keamanan.
Muslim Uighur
tolak kebijakan Cina
| Michael Dillon Pakar sejarahwan Islam di Cina |
| Meski ekonomi berkembang, kehidupan sebagian warga Uighur digambarkan lebih susah. |
Tindak kekerasan di Xinjiang tidak terjadi tiba-tiba.
Akar penyebabnya adalah ketegangan etnis antara warga Uighur Muslim dan warga Cina etnis Han.
Masalah ini bisa dirunut balik hingga beberapa dekade, dan bahkan ke penaklukan wilayah yang kini disebut Xinjiang oleh Dinasti Qing Manchu pada abad ke-18.
Pada tahun 1940-an, muncul Republik Turkestan Timur di sebagian Xinjiang, dan banyak warga Uighur merasakan itu menjadi hak asasi mereka.
Rabu, 27 Mei 2009
DUA TAHUN TRAGEDI PATANI
Berikut ini adalah oleh-oleh esai dari Sapto Waluyo saat berkunjung ke Penang, Malaysia (15-16 April) untuk menghadiri seminar tentang nasib muslim Patani, tepatnya di Universitas Sains Malaysia. Delegasi Indonesia lumayan lengkap, ada mahasiswa (KAMMI), Majelis Mujahidin (Irfan Awwas dan Ust. Muhammad Thalib), peneliti (Imam Nur Azis dari CIR, yang juga pegiat Komunitas Wedangjae) dan Lukman Age dari Institute Aceh), dan wartawan SAKSI (Suhud), juga TARBAWI (Zairofi).
Tanpa publikasi gencar, pemerintahan sementara Thailand di bawah kepemimpinan Pj. PM Chidchai Vanasathidya telah memperpanjang Peraturan Darurat (Emergency Decree) yang diberlakukan bagi tiga Provinsi di wilayah selatan (18/4). Peraturan Darurat itu dikeluarkan pertama kali oleh mantan PM Thaksin Shinawatra pada Juli 2005 setelah rangkaian insiden yang menewaskan sedikitnya 1200 warga Muslimin di Narathiwat, Patani, dan Yala.
Sejarah Perkembangan Islam di Patani Thailand
INDRA - David Brown secara menarik melihat gerakan Muslim di Thailand Selatan sebagai bagian dari reaksi atas ’kolonialisme internal di Thailand. Disparitas ekonomi antara pusat dan provinsi di pinggiran menimbulkan tumbuhnya semangat ’separatisme’, atau istilah Brown ’separatisme etnis’ yang terjadi di Selatan, Utara dan Timur Laut.
Masing-masing melibatkan melayu Muslim di Selatan, etnis perbukitan di Utara, dan orang Isan di Timur Laut. Identitas Muslim Melayu di Selatan, masyarakat komunis di Utara secara jelas berbeda dengan mayoritas Thai-Buddha, sedangkan di Timur Laut hanya berbeda etnis, yaitu kelompok Laos-Thai, meskipun agama sama.
Masing-masing melibatkan melayu Muslim di Selatan, etnis perbukitan di Utara, dan orang Isan di Timur Laut. Identitas Muslim Melayu di Selatan, masyarakat komunis di Utara secara jelas berbeda dengan mayoritas Thai-Buddha, sedangkan di Timur Laut hanya berbeda etnis, yaitu kelompok Laos-Thai, meskipun agama sama.
Patani Thailand
Selasa, 7 Oktober 2003
Dari Festival Budaya Melayu Islam, Patani Thailand (3 habis)
Pusat Kebudayaan Melayu di Nusantara
PATANI adalah diantara pusat kebudayaan Islam yang ada di Asean, dan dikenal sebagai negeri Melayu yang terbayak melahirkan para ulama dan cendekiawan Islam. Bahkan para ulama merupakan golongan yang paling berperan dalam pengembangan Islam di Patani. Mereka mempunyai kedudukan penting dalam pemerintahan, juga di kalangan masyarakat.
Seperti diungkapkan Dr Ahmad Omar Chapakia dari Kolej Islam Yala Selatan Thailand, melalui peran para Ulama, Patani menjadi sebuah negeri Islam yang dikenal dengan sebutan Patani Darusalam. Bahkan Omar menilai, bahwa ulama Patani telah memainkan peran besar dalam menumbuhkan dan membangun di Dunia Melayu atau di Nusantara. Apalagi banyak diantara merka hijrah meninggalkan Patani untuk mengembangkan Islam di negeri-negeri Melayu di Nusantara. Diantara sumbangan besar yang paling kentara adalah mendirikan institusi pendidikan pondok.
Dari Festival Budaya Melayu Islam, Patani Thailand (3 habis)
Pusat Kebudayaan Melayu di Nusantara
PATANI adalah diantara pusat kebudayaan Islam yang ada di Asean, dan dikenal sebagai negeri Melayu yang terbayak melahirkan para ulama dan cendekiawan Islam. Bahkan para ulama merupakan golongan yang paling berperan dalam pengembangan Islam di Patani. Mereka mempunyai kedudukan penting dalam pemerintahan, juga di kalangan masyarakat.
Seperti diungkapkan Dr Ahmad Omar Chapakia dari Kolej Islam Yala Selatan Thailand, melalui peran para Ulama, Patani menjadi sebuah negeri Islam yang dikenal dengan sebutan Patani Darusalam. Bahkan Omar menilai, bahwa ulama Patani telah memainkan peran besar dalam menumbuhkan dan membangun di Dunia Melayu atau di Nusantara. Apalagi banyak diantara merka hijrah meninggalkan Patani untuk mengembangkan Islam di negeri-negeri Melayu di Nusantara. Diantara sumbangan besar yang paling kentara adalah mendirikan institusi pendidikan pondok.
Langganan:
Postingan (Atom)

