Selasa, 20 Januari 2009

Kajang Bulukumba

Sunday, January 6th, 2008

Suku Kajang adalah sub etnis dari suku Bugis yang masih murni. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Bugis dialek Konjo.
Masyakat Adat Kajang secara geografis terbagi atas Kajang Dalam dan Kajang Luar. Masyarakat Adat Kajang Dalam tersebar di beberapa desa antara lain Desa Tana Towa, Bonto Baji, Malleleng, Pattiroang, Batu Nilamung dan sebagian wilayah Desa Tambangan. Kawasan Masyarakat Adat Kajang Dalam secara keseluruhan berbatasan dengan sebelah Utara berbatasan dengan Tuli, Timur berbatasan dengan Limba, sebelah Selatan berbatasan dengan Seppa dan sebelah Barat berbatasan dengan Doro.
Sedangkan Kajang Luar tersebar di hampir seluruh Kecamatan Kajang dan beberapa desa diwilayah Kecamatan Bulukumba diantaranya Desa Jojolo, Desa Tibona, Desa Bonto Minasa dan Desa Batu Lohe.

AGAMA
Masyarakat Kajang seluruhnya beragama Islam tetapi mereka tidak melaksanakan ajaran agama tersebut seperti penganut agama Islam pada umumnya. Mereka tidak melakukan Sholat 5 waktu. Sholat hanya dilakukan di bulan Ramadhan. Selain itu mereka juga tidak melakukan ibadah Haji.
Suku Kajang dipimpin oleh kepala suku yang disebut Amma Toa. Perkembangan manusia diyakini bermula dari Amma Toa pertama sebagai Tomanurung yang “turun” di hutan Tombolo [Tana Toa]. Dunia kemudian menyebar luas dari sana.
Saat ini Amatoa dipilih melalui acara adat yang dilakukan di dalam hutan. Pada acara inti ada sebuah proses yang harus dilakukan untuk memastikan bahwa calon Amatoa adalah orang tepat. Hal ini dilakukan karena orang Kajang percaya bahwa Amatoa tidak dipilih oleh manusia. Seorang Amatoa harus keturunan Tukintara yang artinya keturunan asli Kajang. Selain itu Amatoa juga harus pintar karena dia bertanggung-jawab membuat aturan dan menjalankan adat dan istiadat yang sudah ada turun menurun.

CARA HIDUP
Suku Kajang Dalam hidup tradisional dan menutup diri dari pengaruh modern termasuk listrik dan peralatan-peralatan modern lainnya. Mereka juga menenun sendiri kain sarung yang mereka gunakan sebagai pakaian. Walaupun benang yang digunakan mereka beli di luar desa, proses pewarnaan dan penenunan dilakukan oleh perempuan Kajang sendiri. Masyarakat Kajang harus memakai pakaian atau kain berwarna hitam. Pada anak perempuan mereka wajib mengenakan warna ini saat mencapai usia 20 tahun, sedangkan pada laki-laki saat berusia 30 tahun. Bila tidak mentaatinya diyakini masyarakat Kajang, yang bersangkutan akan terkena bala dan mudah terserang penyakit.
Orang Kajang hidup dengan bertani dan beternak. Selain itu mereka juga memanfaatkan hasil hutan untuk keperluan mereka sehari-hari, seperti kayu, rotan, madu dan lain-lain. Mereka adalah suku yang dikenal sangat dekat dengan hal-hal mistis. Banyak peraturan-peraturan hidup yang didasarkan pada kepercayaan-keparcayaan tersebut. Seperti larangan untuk beternak kambing dan unggas. Menurut mereka hal tersebut bisa mendatangkan petaka bagi suku mereka.
Walaupun orang Kajang tertutup pada perubahan, mereka terbuka untuk pendidikan. Ada kebijakan aturan yang memperbolehkan generasi mudanya untuk bersekolah. Walaupun mereka keluar dari desa adat, mereka dituntut untuk tetap melaksanakan hukum adat istiadat dan mematuhi aturan-aturan Kajang.

RUMAH
Rumah adat suku Kajang adalah rumah panggung dari kayu. Khusus untuk Amma Toa, rumah menggunakan bahan bambu. hal ini sebagai cerminan bahwa Amma Toa adalah orang yang hidup sederhana dan apa adanya sehingga dia tidak boleh lebih kaya dari masyarakatnya.
Rumah panggung ini terdiri dari beberapa ruangan, yaitu satu ruangan besar sebagai tempat berkumpul yang menjadi satu dengan dapur di bagian depan, satu ruang tidur untuk bapak dan ibu, satu ruang doa, dan satu ruang penyimpanan barang sehari-hari seperti baju dan perhiasan. [not check] bahan-bahan makanan disimpan di bangunan lain [lumbung] yang terletak di depan rumah sebelah kanan.

PASANG
Secara harafiah pasang memiliki arti pesan. Tetapi bagi masyarakat Kajang Pasang tidak hanya berhenti sebagai pesan, tetapi menjadi sebuah “wahyu” yang harus dilakukan. Pelanggaran terhadap Pasang akan langsung dikenai sanksi yang berlaku saat hidup di dunia maupun setelah meninggal. Pasang mengajarkan bahwa dunia yang diciptakan Turie’ A’ra’na beserta isinya haruslah dijaga keseimbangannya, terutama hutan. Karenanya hutan harus dipelihara dengan baik dan mendapat perlakuan khusus bagi penghuninya serta tidak boleh merusaknya. Ada pesan leluhur yang terus mereka pegang hingga saat ini, yaitu “Jangan kau tambah hutan tapi juga jangan kau kurangi”.

Merawat hutan merupakan bagian dari ajaran Pasang. Mereka percaya hutan memiliki kekuatan gaib yang dapat mensejahterakan dan sekaligus mendatangkan bencana manakala tidak dijaga kelestariannya. Hutan memiliki kekuatan supranatural yang tidak dapat dihadapi manusia. Untuk itu mereka senantiasa mengadakan upacara-upacara di hutan agar terhindar dari mara bahaya.
Dalam mengelola hutan mereka membagi dalam zona-zona tertentu. Seperti Rabbang Seppang (batas sempit) adalah zona lindung. Zona tersebut tidak boleh diganggu bahkan masuk sembarangan dalam kawasan itu tidak diperbolehkan sama sekali. Kemudian Rabbang Laura (batas luas) adalah zona wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari misalnya untuk wilayah perkampungan, pertanian, perkebunan, sebagai lokasi pengembalaan ternak.

memandikan ternak



seorang wanita suku Kajang sedang memandikan ternaknya. Tanah Toa, Sulawesi Selatan. Suku Kajang dikenal dengan keteguhannya untuk menjaga kelestarian hutan

http://www.kabarindonesia.com/foto.php?pil=20081031142845

AMMATOA

AMMATOA, PEMIMPIN SUKU KAJANG

6 05 2008

Dongeng yang berkembang di tengah komunitas suku Kajang; dulu langit dan bumi menyatu berbentuk tetampah (pattapi). Ketika manusia pertama (mula tauna) muncul di tempat ini, langit dan bumi terpisah. Peristiwa itulah yang mengilhami penamaan “kajang” yang berarti “memisahkan”. Beberapa artefak dan andesit di tempat ini menunjukkan, kawasan ini pernah menjadi sentral upacara adat suku Kajang.

Suku Kajang bermukim di areal pemukiman di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba – sekitar 250 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan. Menurut tempat mukimnya, suku Kajang terbagi dalam dua kelompok; suku Kajang Luar dan suku Kajang Dalam.

Suku Kajang Dalam mendiami tujuh dusun di dalam lingkungan Desa Tana Toa. Pusat kegiatan komunitas adatnya berada di Dusun Benteng. Rumah Ammatoa (pemimpin adat suku Kajang) juga berada di tempat ini; sebuah rumah panggung yang seluruh bagiannya dibuat dari bahan kayu. Bangunan sederhana yang menjadi simbol prinsif kesederhanaan.

Sejak dipilih sebagai pemimpin adat, Ammatoa memang harus memperlihatkan simbol-simbol kesederhanaan itu. Ia harus tinggalkan pernik-pernik kehidupan mewah dan modern, dan memberi teladan kepada warganya; bagaimana seharusnya pemimpin bersikap dan berprilaku di setiap bidang kehidupan. Setiap hari, ia harus memakai pakaian adat suku Kajang; baju, kain, dan ikat kepala, berwarna hitam. Dulu, seluruh warga suku Kajang berpakaian seperti itu. Ada makna filosofis di balik pilihan warna ini – simbol kesederhanaan, sisi gelap, dan peringatan akan kematian.

Di saat sekarang, hanya Ammatoa dan para pemuka adat yang tetap berpakaian hitam dan menjauhi kehidupan modern. Sementara warga suku Kajang lain hanya mengenakan pakaian adat di upacara adat atau menghadap Ammatoa.

Warga suku Kajang percaya, Ammatoa merupakan orang yang dipilih oleh Turie A’ra’na (Yang Mahakuasa) sebagai pembimbing dan pengarah kehidupan sesuai Pandangan Patuntung. Sehingga, mereka pun benar-benar menjaga kesucian tokoh adat itu. Dan, tidak seorang pun diperkenankan merekam wajahnya. Pantangan terbesar di lingkungan Tana Toa.

Suku Kajang disebut-sebut beragama Patuntung atau tuntunan. Belakangan, mereka juga memeluk agama Islam. Namun pada prakteknya, cara hidup dengan Pandangan Panuntung yang mengkiblatkan diri pada Passang Ri Kajang (pesan-pesan suku Kajang), yang dijadikan pijakan. Yakni, prinsif hidup prihatin dan apa adanya atau kesederhanaan (kemase-masae). [http://etnofilm.wordpress.com/2008/05/06/ammatoa-suku-kajang/]

Suku Kajang Ammatoa di Bulukumba

Kajang, tidak sekedar nama wilayah di kabupaten Bulukumba. Kajang identik dengan kepercayaan. Bukan hanya soal fisik yang ditampilkan keseharian dengan pakaian seragam ‘hitam-hitam’ tapi juga keyakinan mereka yang teguh dan tak tergoyahkan yang dianut selama ini.

Di antara suku bangsa ynag ada, di Propinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Bulukumba, Kecamatan Kajang, terdapat satu kelompok masyarakat yang kokoh memegang tradisinya. Mereka mempertahankan pola yang dilahirkan oleh sistem nilai budaya warisan nenek moyangnya dan cenderung kurang menerima, bahkan sebagian ditolak sama sekali hal-hal baru (modernisasi).

Komunitas Ammatoa mudah dikenal karena menampakkan ciri-ciri yang membedakannya dari kelompok sosial lainnya. Spesifikasinya bukan hanya terdapat pada atribut yang dikenakan seperti; baju celana yang hampir menyentuh lutut, sarung, daster, ikat kepala yang dikenakan bagi kaum lelaki, yang semuanya berwarna hitam.

Mengenal Kebudayaan Ammatoa

Masyarakat Ammatoa pada umumnya berprinsip kamase-masea. Maksudnya suatu konsepsi dengan muatan: lambusu’ (jujur), gattang (tegas), sa’bara (sabar), dan apisona (pasrah sepasrah-pasrahnya). Prinsip ini diselimuti oleh ikatan-ikatan emosi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem kepercayaan karena mengandung nilai-nilai keramat yang disertai imbalan dan sanksi yang juga keramat.

Kegiatan yang tampak dalam kehidupan mereka adalah kegiatan-kegiatan dalam mencapai tujuan hidup yang bukan duniawi. Melainkan tujuan alam ghaib (berkumpul bersama “Tuhan” dan Tu Salama’ di tempat yang telah dijanjikan).

Sejarah Berdirinya Kebudayaan Ammatoa

Menurut suku Amma, Ammatoa ada sejak manusia dilahirkan ke bumi. Menurut mereka Amma ada bersamaan dengan manusia sebelum-sebelum kita (manusia purba). Jadi, Ammatoa sudah ada sejak jaman purba.

Perkembangan Kebudayaan Ammatoa

Struktur kehidupan masyarakat Ammatoa amat dibatasi oleh prinsip kamase-masea. Kamase-masea adalah suatu pola sikap dan pola berpikir komunitas Ammatoa yang menyangkut semua hal di dalam kehidupannya. Pola itu diilhami oleh nilai-nilai yang dikandung dalam pasang.

Sistem Kepercayaan dan Agama Masyarakat Ammatoa

Kepercayaan atau religi adalah kegiatan keagamaan manusia dalam hubungannya dengan budaya. Artinya, perilaku keagamaan dilihat sebagai bagian dari kebudayaan dan terpisah dari pengertian agama menurut definisi agama-agama seperti Islam, Kristen, dan agama lainnya.

Religi sebagai gejala manusiawi sudah diterangkan dalam berbagai macam teori. Pengkategorian teori asal mula religi terdiri atas:

¨ Teori yang bercorak psikologis

¨ Teori yang bercorak sosiologis

¨ Teori yang bercorak gabungan psikologis dan sosiologis

Adapun sistem kepercayaan masyarakat Ammatoa adalah menekankan usaha mengekang hawa nafsu untuk tidak melaksanakan perbuatan yang tidak sesuai dengan moral yang dapa merugikan orang lain. Juga tidak merusak alam, menaati aturan-aturan pemimpin, jujur, tegas, sabar, rendah diri, dan tidak cinta materi. Serta pasrah sepasrah-pasrahnya untuk mencapai tujuan keselamatan di alam ghaib.

Ketaatan mereka dalam menjalankan prinsip kamase-masea disebabkan oleh:

¨ Adanya imbalan kalumannyang kalupepeang (kekayaan tiada taranya)

¨ Adanya sanksi bagi yang tidak menjalankannya. Sanksi yang dijatuhkan berupa sanksi biasa (pengusiran dari wilayah Tana Kamase-mase atau pengucilan dari semua kegiatan masyarakat) dan yang lebih berat lagi adalah sanksi sakral (penolakan Tuhan terhadap arwahnya apabila mati).

Masyarakat ammatoa pada umumnya menganut agama Islam. Akan tetapi, mereka belum sepenuhnya menjalankan rukun islam. Seperti shalat lima waktu, berpuasa, dan berhaji. Tetapi masyarakat Ammatoa tidak mau dikatakan sebagai non-islam.

Perkembangan Sarana dan Prasarana di Ammatoa

Masyarakat Ammatoa sejak dahulu menggunakan kuda sebagai alat transportasi. Mereka tidak mau naik mobil atau sepeda motor dan lebih memilih untuk berjalan kaki sekalipun harus menempuh jarak yang cukup jauh.

Perkembangan IPTEK di Ammatoa

Mengenai pendidikan, banyak warga Ammatoa yang juga mementingkan pendidikan bagi mereka dan anak-anaknya. Buktinya, ada beberapa warga Ammatoa yang menjadi tokoh pendidikan di kalangan manusia yang telah mengalami banyak pergeseran (modernisasi). Akan tetapi, perkembangan IPTEK tersebut tidak boleh dibawa masuk ke dalam wilayah Ammatoa. Karena mereka sangat menolak adanya perubahan terhadap kebudayaan mereka.

Hal ini dapat dibenarkan, karena setelah melakukan pengamatan langsung, memang masyarakat di sana seperti tidak mengenal perubahan teknologi di luar Ammatoa. Kami tidak pernah melihat adanya TV, radio, ataupun sepeda. Kehidupan mereka sangat alami.

Keadaan ketika Masyarakat Ammatoa Berduka

Agama warga Ammatoa 100% Islam. Ketika Amma berduka taksiyah dilakukan selama 100 hari, dan bagi keluarga yang ditinggalkan tidak boleh memakai baju. Hanya menggunakan sarung berwarna hitam selama 100 hari.

from:
http://rikania09.multiply.com/journal/item/47/Suku_Kajang_Ammatoa_di_Bulukumb
a

JEJAK ARKEOLOGIS SUKU KAJANG

“Jejak Arkeologis Suku Kajang” menceritakan perjalanan dua arkeolog muda Unhas – Yadi Mulyadi dan Asfriyanto – yang mengurai jejak arkeologis di Tana Toa, Bulukumba. Tana Toa merupakan tempat bermukim Suku Kajang, yang memiliki keunikan cara hidup, kesenian, dan bahasa. Kesederhanaan dan kearifan lokal tercermin dari kawasan ini. Dan, fakta arkelogis membuktikan, Tana Toa menyimpan catatan sejarah peradaban yang panjang dan bias dikatakan sebagai nenek-moyang raja-raja di Sulawesi Selatan.


TIM PRODUKSI:
"JEJAK ARKEOLOGIS SUKU KAJANG";
Syaiful Halim (Sutradara/Penulis Naskah); Teguh Prihantoro (Pengarah Fotografi/Kamerawan); Ardie (Penata Suara); Agus Salim Harahap (Penyunting Gambar); Billy Soemawisastra (Narator); M. Nur Ridwan & Budi Utomo (Penata Grafis); Ari Widagdo (Penata Musik); Suparyono (Periset); Yadi Mulyadi & Asfriyanto (Periset/Talent); Tamrin Soppeng (Pendukung Produksi). Diproduksi di Bulukumba, Sulsel, pada 4-13 Februari 2006. Ditayangkan di Program POTRET SCTV pada 18 Februari 2006.


NARASI ORISINAL:
SEBUAH DONGENG DI TANAH KAJANG MENCERITAKANKAN/ DULU LANGIT DAN BUMI MENYATU BERBENTUK SEBUAH PATTAPI/ ATAU TETAMPAH// KETIKA MULA TAUNNA/ ATAU MANUSIA PERTAMA/ MUNCUL/ LANGIT DAN BUMI TERPISAH// PERISTIWA ITU MENGILHAMI PENAMAAN KAJANG/ YANG BERARTI MEMISAHKAN//WARGA SUKU KAJANG PERCAYA/ MULA TAUNNA MUNCUL DI SITUS POSSI TANA/ DI DESA MATOANGIN/ SEKITAR 10 KILOMETER DARI KAWASAN ADAT TANA TOA// BEBERAPA BUKTI ARTEFAK DAN ANDESIT MENUNJUKKAN/ KAWASAN INI PERNAH MENJADI SENTRAL BERBAGAI UPACARA ADAT//

SUKU KAJANG BERADA DI KECAMATAN KAJANG/ KABUPATEN KULUKUMBA/ SEKITAR 250 KILOMETER DARI KOTA MAKASSAR/ SULAWESI SELATAN// MENURUT TEMPAT MUKIMNYA/ SUKU KAJANG TERBAGI DALAM DUA KELOMPOK/ SUKU KAJANG LUAR DAN SUKU KAJANG DALAM// SUKU KAJANG DALAM MENDIAMI TUJUH DUSUN DI DESA TANA TOA// PUSAT KEGIATAN KOMUNITAS SUKU KAJANG BERADA DI DUSUN BENTENG/ YANG DITANDAI DENGAN KEHADIRAN RUMAH AMMATOA/ ATAU PEMIMPIN ADAT SUKU KAJANG// WARGA SUKU KAJANG PERCAYA/ AMMATOA MERUPAKAN ORANG YANG DIPILIH TURIE A’RA’NA/ ATAU YANG MAHA KUASA/ SEBAGAI PEMBIMBING DAN PENGARAH KEHIDUPAN SESUAI PANDANGAN PANUNTUNG// SEHINGGA/ MEREKA PUN BENAR-BENAR MENJAGA KESUCIAN TOKOH ITU/ DAN TIDAK SEORANG PUN DIPERKENANKAN MEMILIKI REKAMAN WAJAHNYA//

DULU/ SUKU KAJANG DISEBUT-SEBUT BERAGAMA PANUNTUNG/ ATAU TUNTUTAN// BELAKANGAN INI/ MEREKA JUGA MENGAKU MEMELUK AGAMA ISLAM// PADA PRAKTEKNYA/ CARA HIDUP PANUNTUNG/ YANG MENGKIBLATKAN DIRI PADA PASSANG RI KAJANG/ ATAU PESAN-PESAN SUKU KAJANG/ YANG MENGHARUSKAN HIDUP PRIHATIN DAN APA ADANYA/ ATAU KEMASE-MASAE/ MENJADI PAYUNG KEHIDUPANNYA//

SUKU KAJANG IDENTIK DENGAN PAKAIAN HITAM/ SEBAGAI SIMBOL KESEDERHANAAN DAN PERINGATAN AKAN ADANYA KEMATIAN/ ATAU SISI GELAP// BELAKANGAN INI/ HANYA AMMATOA DAN PARA PEMUKA ADAT/ YANG TETAP BERPAKAIAN HITAM DAN MENJAUHI PENGARUH HIDUP MODERN// SEMENTARA WARGA SUKU KAJANG LAIN/ HANYA MENGENAKAN PAKAIAN HITAM DI UPACARA ADAT ATAU MENGHADAP AMMATOA// KEPATUHAN AKAN AJARAN KEMASE-MASAE ITU BUKAN HANYA DITUNJUKKAN DENGAN PAKAIAN/ TAPI JUGA KEHIDUPAN MALAM YANG MENGHINDARKAN LAMPU-LAMPU BERCAHAYA TERANG//

DI LUAR KEKAYAAN ADAT YANG SENGAJA TERUS DIPELIHARA/ SUKU KAJANG PUN TERNYATA DIKENAL MEMILIKI CATATAN PRASEJARAH YANG MENAKJUBKAN// BERBAGAI PENELITIAN ARKELOGIS DARI BERBAGAI PERGURUAN TINGGI KE LINGKUNGAN KAWASAN INI/ MEMBERIKAN SUATU BUKTI/ ADANYA PERADABAN KUNO//

PERJALANAN DARI GERBANG KAWASAN ADAT TANA TOA KE DUSUN BENTENG HANYA BISA DILAKUKAN DENGAN BERJALAN KAKI// MESKI KENDARAAN TIDAK DIPERBOLEH MEMASUKI KAWASAN ADAT/ TERNYATA JALAN-JALAN DI KAWASAN INI TELAH TERTATA APIK// DI SEPANJANG JALAN TERDAPAT RUMAH-RUMAH ADAT/ ATAU BOLAH/ YANG KESEMUANYA MENGHADAP KE BARAT// ARSITEKTUR RUMAH DI KAWASAN INI SEMUANYA SAMA/ YAKNI TERDIRI ATAS PARA ATAU BAGIAN ATAS/ KALE BOLA ATAU BAGIAN TENGAH/ DAN SIRING ATAU BAGIAN BAWAH//

WARGA SUKU KAJANG MENGGANTUNGKAN KEBUTUHAN AIRNYA PADA MATA AIR ATAU SUMUR// SATU MATA AIR DIPERUNTUKKAN BAGI SELURUH WARGA DUSUN// MISAL/ SUMUR TUNIKEKE INI MENJADI TEMPAT MENCUCI/ MANDI/ DAN MINUM BAGI RATUSAN WARGA DUSUN BENTENG//

YADI MULYADI DAN ASPRIYANTO ADALAH ARKELOG MUDA DARI UNIVERSITAS HASANUDDIN/ MAKASSAR/ YANG KERAP MELAKUKAN PENELITIAN DI TEMPAT INI// KALI INI/ DITEMANI OLEH SEORANG PEMUDA SUKU KAJANG BERNAMA ABBAS/ MEREKA MENCOBA MEREKA-ULANG KEMBALI HASIL PENELITIANNYA// SEBELUM MENYUSURI SITUS-SITUS DI DALAM LINGKUNGAN DUSUN BENTENG/ KEDUA ARKEOLOG MUDA INI MENDATANGI RUMAH AMMATOA// KUNJUNGAN INI DIMAKSUDKAN/ UNTUK MEMINTA IZIN DAN RESTU ATAS KEGIATAN PENELITIAN//

BAGI SUKU KAJANG/ AMMATOA MEMILIKI PERAN SENTRAL UNTUK SEMUA KEHIDUPAN// IA MERUPAKAN PEMIMPIN AGAMA/ PEMIMPIN ADAT/ HAKIM/ DAN DOKTER/ BAGI WARGA YANG MEMILIKI MASALAH// KARENA ITU/ AMMATOA TIDAK MEMILIKI KEGIATAN LAIN/ SELAIN MENEMANI DAN MEMBANTU MEMUTUSKAN BERBAGAI PERSOALAN DI KOMUNITASNYA// DARI RUMAH AMMATOA/ PENELITIAN DILAKUKAN DI SEBUAH PEMAKAMAN WARGA SUKU KAJANG//

MAKAM MERUPAKAN BUKTI KUNO/ YANG LEBIH TERJAGA KEASLIANNYA DIBANDINGKAN RUMAH ATAU SIMBOL-SIMBOL ADAT LAINNYA// KARENA ITU/ UNTUK MENDAPATKAN BUKTI PERADABAN DI MASA LAMPAU/ PARA ARKEOLOG MENGAWALINYA DARI LOKASI SEMACAM INI// DI LOKASI PEMAKAMAN LAIN/ TERDAPAT SEBUAH MAKAM MILIK SEORANG KSATRIA// MESKI MAKAM INI TIDAK TERURUS/ NAMUN PARA ARKEOLOG INI MENEMUKAN IDENTITASNYA//

PENYELUSURAN JEJAK-JEJAK ARKELOGIS DI KAWASAN ADAT TANA TOA/ SEAKAN MEMASUKI KEHIDUPAN MASA LAMPAU DAN MASA SEKARANG/ YANG MASIH TERJAGA KETRADISIONALANNYA// SITUS-SITUS YANG HANYA DIJAGA OLEH WARGA SETEMPAT/ MEMBERI GAMBARAN SUKU KAJANG TEMPO DULU// NAMUN/ BERBAGAI KEGIATAN WARGANYA/ MEMBERI GAMBARAN KEHIDUPAN SEBALIKNYA//

DI SIANG HARI/ KAUM LAKI-LAKI DI KAWASAN INI PERGI KE SAWAH ATAU LADANG// SEMENTARA/ KAUM PEREMPUANNYA MENENUN KAIN DI BAGIAN SIRING RUMAHNYA// HASIL TENUN WARGA SUKU KAJANG BUKAN HANYA MEMENUHI KEBUTUHAN WARGA SETEMPAT/ TAPI JUGA DIJUAL KE PARA PENDATANG// SEDANGKAN SUMBER UTAMA WARGA SUKU KAJANG ADALAH LAHAN PERTANIAN DAN KEBUN//

KETIKA MUSIM TANAM TIBA/ MEREKA BERBONDONG-BONDONG KE SAWAH/ YANG JARAKNYA BEBERAPA KILOMETER DARI RUMAHNYA// MEREKA MANFAATKAN KUDA SEBAGAI KENDARAAN KE SAWAH ATAU LADANG/ DAN KERBAU SEBAGAI HEWAN PEMBAJAK// WARGA KAJANG YANG TIDAK MEMILIKI SAWAH ATAU LADANG/ BIASANYA BEKERJA PADA PEMILIK SAWAH//

JEJAK-JEJAK ARKELOGIS SUKU KAJANG BUKAN HANYA BERADA DI LINGKUNGAN DESA TANA TOA// DI DUSUN LEMBANG LOHE/ SEKITAR 20 KILOMETER DARI DESA TANA TOA/ TERDAPAT MAKAM TONTENG DAENG MATTARANG/ SEORANG BANGSAWAN SUKU KAJANG DI ZAMANNYA// DENGAN KEKAYAAN ARKELOGIS DI TANAH KAJANG MEMBUAT WARGA SUKU KAJANG PERCAYA/ BAHWA MEREKA BUKAN HANYA MEMILIKI SEJARAH PERADABAN YANG PANJANG// NAMUN/ SUKU KAJANG MERUPAKAN LELUHUR RAJA-RAJA DI SULAWESI SELATAN//

LEBIH DARI TEMUAN ARKELOGIS/ KINI SUKU KAJANG BENAR-BENAR TELAH MEMASUKI KEHIDUPAN MODERN// KEGIATAN EKONOMI YANG DILAKUKAN DI PASAR TRADISIONAL MENUNJUKKAN MEREKA BUKANLAH SUKU YANG TERISOLIR ATAU TERPENCILKAN// WARGA SUKU KAJANG DALAM MELAKUKAN KEGIATAN PERDAGANGAN SEPERTI WARGA SUKU KAJANG LUAR// DAN/ DI TEMPAT INI/ SEMUA BARANG-BARANG DARI KOTA/ SEMACAM KEPING VCD/ JUGA DENGAN MUDAH DIDAPAT//

KELEBIHAN SUKU KAJANG DALAM/ MEREKA MENCOBA MEMPERTAHANKAN IDENTITAS DENGAN PAKAIAN HITAMNYA DI ANTARA WARGA SUKU KAJANG LUAR// BAHKAN/ WARGA SUKU KAJANG DALAM YANG TENGAH BERDUKA/ TETAP TAMPIL DENGAN KAIN MENUTUPI TUBUHNYA DARI KEPALA HINGGA BADAN/ SEAKAN BERADA DI DALAM KOMUNITASNYA//

SATU-SATUNYA SISI BURAM ATAS PENGABAIAN PRINSIF KEMASE-MASEA ATAU PRIHATIN DAN APA ADANYA/ ADALAH MENINGKATNYA POLA PIKIR KOMERSIAL// DI DUSUN BENTENG/ KINI BISA MENDAPATKAN HIBURAN BERUPA TEATER RAKYAT PABITTE PASSAPU/ ASAL MENGELUARKAN SEJUMLAH UANG// DULU/ KESENIAN INI MERUPAKAN BAGIAN DARI KEGIATAN SPIRITUAL/ YANG DI DALAMNYA MASIH MENGANDUNG UNSUR GAIB//

BERBAGAI RITUAL ADAT/ SEMACAM UPACARA KALOMBA/ JUGA MEMPERLIHATKAN SISI KETERBALIKAN ATAS PRINSIF KEMASE-MASEA// UPACARA PELEPASAN MASA ASUH DARI DUKUN PERSALINAN KE KELUARGA HATTO DI DUSUN SOBBU INI/ MENGHABISKAN DANA HINGGA 50 JUTA RUPIAH// SEHINGGA/ KELUARGA HATTO HARUS MEMPERSIAPKANNYA BERBULAN-BULAN// DI AKHIR ACARA/ KERABAT KELUARGA HATTO MEMBERIKA KADO KEPADA ANAK YANG DIKALEMBO/ DENGAN SEJUMLAH UANG BERNILAI JUTA-JUTAAN// INILAH PERADABAN SUKU KAJANG MASA KINI//

http://syaifulhalim.blogspot.com/2007/06/jejak-arkeologis-suku-kajang.html